Rekor Curah Hujan Nagoya 104,5 mm dalam Satu Jam

Nagoya, Jepang, mencatat salah satu peristiwa hujan paling ekstrem dalam sejarah pengamatan cuaca kota tersebut pada 8 September 2026. Dalam satu jam, curah hujan mencapai 104,5 mm, memecahkan rekor curah hujan satu jam yang sebelumnya tercatat sejak tahun 2000.

Hujan ekstrem tersebut terjadi pada sore hari dan kemudian menyebabkan banjir di sejumlah wilayah Nagoya. Jalan tergenang, sungai mengalami kenaikan air, sejumlah kendaraan terjebak, dan jaringan transportasi seperti subway, kereta, serta bus mengalami gangguan.

Yang membuat angka tersebut semakin penting adalah fakta bahwa 104,5 mm dalam satu jam merupakan rekor tertinggi dalam lebih dari 130 tahun sejarah pengamatan Nagoya. Data Badan Meteorologi Jepang (JMA) menunjukkan rekor sebelumnya adalah 97,0 mm dalam satu jam pada September 2000.

📑 Daftar Isi

Berapa Curah Hujan Nagoya pada 8 September 2026?

Pada 8 September 2026, stasiun pengamatan Nagoya mencatat curah hujan maksimum sebesar:

  • 104,5 mm dalam satu jam
  • Waktu pengamatan berakhir sekitar 16.53 waktu Jepang
  • Menjadi rekor tertinggi curah hujan satu jam Nagoya
  • Mengalahkan rekor sebelumnya sebesar 97,0 mm
  • Rekor sebelumnya terjadi pada 11 September 2000

Data resmi JMA mencatat angka 104,5 mm tersebut sebagai nilai tertinggi sepanjang sejarah pengamatan di Nagoya. Pengamatan di kota tersebut telah berlangsung sejak 1890.

104,5 mm dalam Satu Jam Memecahkan Rekor Lama

Rekor sebelumnya bukan angka kecil. Pada Tokai Heavy Rain tahun 2000, Nagoya mencatat 97,0 mm hujan dalam satu jam.

Peristiwa tahun 2000 tersebut dikenal sebagai salah satu bencana hujan besar dalam sejarah kawasan Tokai.

Pada September 2026, angka tersebut kembali terlampaui.

Peristiwa Curah Hujan 1 Jam Keterangan
September 2026 104,5 mm Rekor baru Nagoya
Tokai Heavy Rain 2000 97,0 mm Rekor sebelumnya

Dengan demikian, hujan September 2026 bukan hanya hujan deras biasa. Intensitasnya berhasil melewati rekor yang telah bertahan selama sekitar 26 tahun.

Ini Merupakan Pertama Kalinya Nagoya Mencatat Lebih dari 100 mm dalam Satu Jam

Ada fakta lain yang membuat peristiwa ini sangat penting.

Menurut laporan berdasarkan data JMA, 104,5 mm menjadi pertama kalinya Nagoya mencatat curah hujan lebih dari 100 mm dalam satu jam sejak pengamatan dimulai pada 1890.

Artinya, selama lebih dari 130 tahun sejarah pengamatan, stasiun cuaca Nagoya belum pernah mencatat angka satu jam yang mencapai tiga digit sebelum peristiwa September 2026.

Karena itu, angka 104,5 mm bukan sekadar memecahkan rekor lama, tetapi juga melewati batas psikologis penting yaitu 100 mm dalam satu jam.

Seberapa Banyak Air Itu?

Untuk memahami 104,5 mm, angka tersebut dapat dikonversi menjadi volume air.

Curah hujan 1 mm setara dengan sekitar satu liter air pada setiap meter persegi permukaan apabila seluruh hujan dihitung sebagai air yang jatuh ke permukaan.

Dengan demikian, 104,5 mm hujan secara sederhana setara dengan sekitar:

104,5 liter air per meter persegi.

Jika angka tersebut diterapkan secara teoritis pada area seluas satu kilometer persegi, volumenya mencapai sekitar 104,5 juta liter air.

Tentu saja, tidak semua air tersebut berada di permukaan pada saat yang sama. Sebagian meresap ke tanah, mengalir melalui drainase, masuk ke sungai, atau menguap. Namun, perhitungan tersebut membantu menunjukkan betapa besar volume air yang harus ditangani dalam waktu sangat singkat.

Mengapa 100 mm Hujan dalam Satu Jam Sangat Berbahaya?

Bahaya hujan ekstrem bukan hanya ditentukan oleh total curah hujan, tetapi juga oleh seberapa cepat air tersebut turun.

Jika 100 mm hujan turun selama beberapa hari, tanah dan sistem drainase mempunyai lebih banyak waktu untuk menangani air.

Namun, jika lebih dari 100 mm turun dalam waktu sekitar satu jam, air masuk ke lingkungan dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Akibatnya:

  • drainase dapat kewalahan,
  • jalan cepat tergenang,
  • underpass dapat terisi air,
  • sungai naik dengan cepat,
  • air dapat masuk ke bangunan,
  • dan transportasi dapat terganggu.

Hujan 104,5 mm Terjadi Menjelang Jam Sibuk

Waktu terjadinya hujan juga memperbesar dampaknya.

Curah hujan ekstrem terjadi pada sore hari, sekitar sebelum pukul 17.00.

Waktu tersebut bertepatan dengan periode ketika banyak pekerja dan pelajar mulai melakukan perjalanan pulang.

Akibatnya, gangguan transportasi terjadi tepat ketika jumlah pengguna transportasi sedang tinggi.

Laporan media Jepang menunjukkan banyak penumpang mengalami kesulitan pulang setelah sejumlah jalur kereta dan subway berhenti beroperasi.

Apa yang Terjadi Setelah Hujan 104,5 mm?

Hujan ekstrem tersebut kemudian memicu serangkaian dampak di Nagoya.

Secara sederhana, rangkaiannya dapat digambarkan seperti berikut:

104,5 mm hujan/jam → drainase kewalahan → genangan → sungai naik → banjir → transportasi terganggu → aktivitas masyarakat lumpuh.

Beberapa ruas jalan mengalami banjir, sementara area rendah dan underpass menjadi lokasi yang sangat berisiko.

Di sejumlah wilayah, air juga menggenangi jalur kereta.

Jalur Kereta Ikut Tergenang

Hujan dengan intensitas ekstrem tidak hanya menyebabkan genangan di jalan.

Di sekitar Chikusa Station, air hujan sampai menggenangi area jalur kereta sehingga rel sulit terlihat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hujan ekstrem telah melampaui kemampuan normal sejumlah infrastruktur perkotaan untuk mengalirkan air.

Akibatnya, operator transportasi harus mengambil keputusan untuk menghentikan layanan demi keselamatan penumpang.

Subway Nagoya Sempat Berhenti Total

Salah satu dampak terbesar dari hujan ekstrem adalah penghentian seluruh jaringan Nagoya Municipal Subway.

Enam jalur subway kota sempat berhenti beroperasi ketika hujan mencapai intensitas ekstrem.

Penghentian tersebut menyebabkan ribuan penumpang harus mencari alternatif perjalanan atau menunggu hingga layanan kembali tersedia.

Subway kemudian mulai dipulihkan secara bertahap setelah kondisi membaik.

Kereta JR dan Meitetsu Juga Terdampak

Gangguan tidak hanya terjadi pada subway.

Beberapa layanan JR Central dan Meitetsu juga mengalami penghentian atau gangguan.

Kondisi tersebut menyebabkan efek domino pada mobilitas masyarakat karena banyak orang yang biasanya berpindah menggunakan kombinasi subway dan kereta regional tidak dapat melanjutkan perjalanan.

Media Jepang melaporkan banyak penumpang mengalami kesulitan pulang akibat penghentian berbagai moda transportasi secara bersamaan.

Mengapa Drainase Tidak Mampu Menangani 104,5 mm?

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul ketika terjadi banjir perkotaan adalah menganggap bahwa sistem drainase “gagal”.

Padahal, sistem drainase dirancang berdasarkan kapasitas tertentu.

Ketika curah hujan jauh melampaui kapasitas tersebut, air dapat terakumulasi lebih cepat daripada kemampuan sistem untuk membuangnya.

Dengan curah hujan 104,5 mm dalam satu jam, volume air yang masuk ke permukaan perkotaan menjadi sangat besar.

Jika hujan turun lebih cepat daripada air dapat dialirkan melalui saluran, genangan akan terbentuk.

Hubungan 104,5 mm dengan Banjir Sungai

Hujan ekstrem juga memengaruhi sungai.

Air hujan dari wilayah yang lebih luas akan mengalir menuju sungai dan meningkatkan debit air.

Beberapa sungai di sekitar Nagoya mengalami kenaikan tinggi muka air selama kejadian tersebut, termasuk:

  • Yada River
  • Ueda River
  • Kanare River
  • Shonai River

Kondisi Sungai Shonai bahkan membuat pemerintah mengeluarkan Level 5 Flood Special Warning untuk kawasan yang berisiko mengalami banjir.

Hujan Ekstrem dan Linear Rainband

Rekor 104,5 mm tersebut tidak terjadi secara acak.

Pada 8 September, wilayah Aichi dan Gifu mengalami pembentukan linear rainband atau senjō kōsuitai.

Linear rainband merupakan rangkaian awan hujan aktif yang membentuk pola memanjang dan dapat menyebabkan hujan deras terus-menerus di kawasan tertentu.

Weathernews menjelaskan bahwa udara hangat dan lembap yang berkaitan dengan sistem tekanan rendah setelah Typhoon 24 mengalir menuju autumn rain front. Kondisi tersebut membantu membuat atmosfer tidak stabil dan memicu perkembangan awan hujan yang sangat aktif.

Mengapa Linear Rainband Bisa Menghasilkan Hujan Lebih dari 100 mm?

Masalah utama linear rainband adalah kemampuannya untuk membuat awan hujan aktif terus memengaruhi wilayah yang sama.

Awan hujan baru dapat terbentuk sementara awan sebelumnya bergerak menjauh. Jika proses tersebut terjadi berulang-ulang, suatu wilayah dapat menerima hujan dalam jumlah sangat besar.

Inilah yang membuat curah hujan dapat meningkat secara ekstrem dalam waktu relatif singkat.

Bagaimana Posisi Rekor 2026 Dibandingkan Rekor 2000?

Perbandingan kedua peristiwa tersebut menunjukkan betapa besar peningkatan intensitas hujan yang tercatat pada 2026.

Tahun Curah Hujan 1 Jam Status
2000 97,0 mm Rekor sebelumnya
2026 104,5 mm Rekor baru

Selisihnya mencapai 7,5 mm.

Secara persentase, rekor 2026 sekitar 7,7 persen lebih tinggi daripada rekor 97,0 mm yang tercatat pada tahun 2000.

Apakah 104,5 mm Merupakan Rekor Sepanjang Jepang?

Tidak.

Angka 104,5 mm merupakan rekor curah hujan satu jam untuk lokasi pengamatan Nagoya, bukan rekor nasional Jepang.

Jepang memiliki banyak wilayah yang pernah mengalami curah hujan satu jam jauh lebih tinggi.

Namun, nilai tersebut tetap sangat penting karena menunjukkan bahwa Nagoya mengalami intensitas hujan yang belum pernah tercatat dalam lebih dari 130 tahun sejarah pengamatan lokal.

Berapa Lama Sejarah Pengamatan Cuaca Nagoya?

Data JMA menunjukkan pengamatan di Nagoya telah berlangsung sejak 1890.

Artinya, rekor 104,5 mm dapat dibandingkan dengan data historis yang mencakup lebih dari 130 tahun.

Karena itu, istilah “rekor sepanjang sejarah pengamatan” memiliki arti yang cukup kuat dalam konteks cuaca Nagoya.

JMA secara resmi mencatat 104,5 mm sebagai nilai tertinggi dan memperbarui rekor sebelumnya sebesar 97,0 mm dari tahun 2000.

Apakah 104,5 mm Berarti Hujan Turun Merata di Seluruh Nagoya?

Tidak.

Angka 104,5 mm berasal dari stasiun pengamatan tertentu di Nagoya. Curah hujan dapat berbeda antara satu kawasan dan kawasan lainnya.

Dalam hujan konvektif dan linear rainband, perbedaan curah hujan antarlokasi bahkan dapat cukup besar.

Karena itu, satu angka rekor tidak berarti setiap wilayah Nagoya menerima tepat 104,5 mm hujan dalam satu jam.

Mengapa Angka Curah Hujan Harus Dibaca Bersama Durasi?

Angka curah hujan tanpa informasi durasi dapat menyesatkan.

Misalnya, 100 mm hujan dalam waktu 24 jam memiliki dampak berbeda dibandingkan 100 mm dalam satu jam.

Pada kasus Nagoya, masalah utamanya adalah kombinasi jumlah hujan yang sangat besar dan durasi yang sangat singkat.

Semakin cepat hujan turun, semakin sulit tanah, drainase, sungai, dan infrastruktur perkotaan menangani air tersebut.

Apakah Hujan 104,5 mm Menyebabkan Banjir Secara Langsung?

Hujan ekstrem merupakan pemicu utama, tetapi banjir merupakan hasil dari interaksi beberapa faktor.

Faktor tersebut meliputi:

  • intensitas hujan,
  • durasi hujan,
  • kondisi tanah,
  • kapasitas drainase,
  • kondisi sungai,
  • topografi,
  • lokasi bangunan dan jalan,
  • serta kondisi wilayah hulu.

Karena itu, tidak semua tempat yang menerima hujan 104,5 mm pasti mengalami banjir dengan tingkat yang sama.

Dampak Rekor Hujan terhadap Kehidupan Warga

Hujan ekstrem terjadi ketika aktivitas masyarakat sedang berlangsung.

Akibatnya, dampak yang dirasakan bukan hanya berupa genangan.

  • Perjalanan pulang terganggu.
  • Subway berhenti beroperasi.
  • Kereta regional mengalami gangguan.
  • Bus kota berhenti beroperasi.
  • Jalan dan underpass tergenang.
  • Kendaraan terjebak.
  • Sejumlah bangunan mengalami banjir.
  • Warga harus mencari tempat yang lebih aman.

Dengan kata lain, hujan ekstrem dapat menghasilkan efek domino terhadap kehidupan kota.

Apakah Nagoya Sudah Pernah Mengalami Hujan Ekstrem Sebelumnya?

Ya.

Nagoya dan kawasan Tokai memiliki sejarah bencana hujan besar. Salah satu yang paling terkenal adalah Tokai Heavy Rain pada September 2000.

Peristiwa tersebut menyebabkan banjir besar di kawasan Tokai dan menjadi salah satu referensi penting dalam pengelolaan risiko banjir di wilayah tersebut.

Rekor 97,0 mm per jam pada tahun 2000 kemudian menjadi angka yang bertahan sebagai rekor Nagoya selama bertahun-tahun sebelum akhirnya dilampaui oleh 104,5 mm pada 2026.

Apakah Hujan 100 mm per Jam Semakin Sering?

Data nasional Jepang menunjukkan kejadian hujan sangat deras dalam skala lebih dari 100 mm per jam menjadi perhatian yang semakin besar.

Analisis yang diberitakan TV Asahi berdasarkan statistik JMA menunjukkan bahwa jumlah kejadian hujan 100 mm per jam atau lebih meningkat dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Pada 2025, Jepang bahkan mencatat jumlah kejadian 100 mm per jam atau lebih yang sangat tinggi.

Namun, tren nasional tersebut tidak boleh diterjemahkan secara sederhana sebagai bukti bahwa setiap rekor hujan lokal disebabkan oleh satu faktor tertentu.

Setiap peristiwa tetap perlu dianalisis berdasarkan kondisi atmosfer dan data meteorologi masing-masing.

Apakah Perubahan Iklim Menyebabkan Rekor 104,5 mm?

Belum tepat untuk mengatakan bahwa rekor 104,5 mm tersebut secara langsung “disebabkan” oleh perubahan iklim tanpa studi atribusi khusus.

Namun, secara fisik atmosfer yang lebih hangat dapat menampung lebih banyak uap air. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa perubahan iklim menjadi faktor penting dalam kajian risiko hujan ekstrem.

Untuk kasus Nagoya September 2026, penyebab meteorologis langsung melibatkan sistem tekanan rendah, udara hangat-lembap, autumn rain front, dan linear rainband.

Apa Arti Rekor 104,5 mm bagi Wisatawan?

Bagi wisatawan, rekor tersebut menjadi pengingat bahwa kondisi cuaca Nagoya dapat berubah dengan cepat.

Jika sedang berada di Nagoya ketika peringatan hujan ekstrem dikeluarkan, wisatawan sebaiknya:

  • menghindari sungai,
  • menghindari underpass,
  • tidak berjalan di jalan yang tergenang,
  • memeriksa status subway dan kereta,
  • mengikuti instruksi evakuasi,
  • dan mencari tempat aman jika kondisi memburuk.

Jangan mencoba mendekati sungai atau lokasi banjir hanya untuk mengambil foto atau video.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Hujan Ekstrem Terjadi Lagi?

Jika Nagoya kembali mengalami hujan dengan intensitas sangat tinggi, keselamatan harus menjadi prioritas.

1. Pantau Informasi JMA

Perhatikan peringatan hujan lebat, banjir, dan informasi linear rainband.

2. Ikuti Informasi Pemerintah Kota

Jika ada instruksi evakuasi, ikuti petunjuk berdasarkan lokasi Anda.

3. Jangan Masuk Underpass

Area rendah dapat terisi air dengan sangat cepat.

4. Periksa Transportasi

Jangan berangkat ke stasiun tanpa memeriksa apakah kereta atau subway masih beroperasi.

5. Jangan Memaksakan Perjalanan

Jika hujan sangat deras, menunda perjalanan dapat jauh lebih aman daripada terjebak di jalan.

FAQ Rekor Curah Hujan Nagoya 104,5 mm

Kapan Nagoya mencatat hujan 104,5 mm?

Nagoya mencatat 104,5 mm dalam satu jam pada 8 September 2026, dengan periode pengamatan berakhir sekitar pukul 16.53 waktu Jepang.

Apakah 104,5 mm merupakan rekor Nagoya?

Ya. JMA mencatatnya sebagai curah hujan satu jam tertinggi sepanjang sejarah pengamatan Nagoya.

Berapa rekor sebelumnya?

Rekor sebelumnya adalah 97,0 mm dalam satu jam pada 11 September 2000.

Apakah ini pertama kalinya Nagoya mengalami hujan lebih dari 100 mm per jam?

Ya. Berdasarkan catatan pengamatan sejak 1890, 104,5 mm merupakan pertama kalinya curah hujan satu jam Nagoya melewati angka 100 mm.

Apakah 104,5 mm berarti 104,5 liter air per meter persegi?

Secara sederhana, ya. Curah hujan 104,5 mm setara dengan sekitar 104,5 liter air per meter persegi jika seluruh air dihitung sebagai air yang jatuh ke permukaan.

Apakah hujan 104,5 mm menyebabkan banjir Nagoya?

Hujan ekstrem tersebut menjadi pemicu utama, tetapi tingkat banjir juga dipengaruhi kondisi sungai, drainase, topografi, dan aliran air dari wilayah sekitar.

Apa yang menyebabkan hujan ekstrem tersebut?

Hujan ekstrem berkaitan dengan kombinasi udara hangat dan lembap, autumn rain front, sistem tekanan rendah yang berasal dari sisa Typhoon 24, serta terbentuknya linear rainband di wilayah Aichi dan Gifu.

Apakah 104,5 mm merupakan rekor Jepang?

Tidak. Angka tersebut merupakan rekor satu jam untuk lokasi pengamatan Nagoya, bukan rekor nasional Jepang.

Daftar artikel Terkait

Curah hujan 104,5 mm dalam satu jam pada 8 September 2026 menjadi salah satu catatan cuaca paling ekstrem dalam sejarah Nagoya.

Angka tersebut memecahkan rekor 97,0 mm yang tercatat pada Tokai Heavy Rain tahun 2000. Lebih penting lagi, 104,5 mm merupakan pertama kalinya Nagoya mencatat curah hujan satu jam di atas 100 mm sejak pengamatan dimulai pada 1890.

Hujan ekstrem tersebut terjadi ketika kondisi atmosfer sangat mendukung pembentukan awan hujan aktif. Udara hangat dan lembap mengalir menuju autumn rain front, sementara linear rainband berkembang di Aichi dan Gifu.

Dalam waktu singkat, volume air yang sangat besar menyebabkan jalan tergenang, sungai naik, sejumlah wilayah mengalami banjir, dan transportasi Nagoya mengalami gangguan besar.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa angka curah hujan bukan sekadar data meteorologi. Ketika lebih dari 100 mm hujan turun dalam satu jam, dampaknya dapat menjalar ke hampir seluruh sistem perkotaan—mulai dari drainase, sungai, jalan, kereta, subway, hingga aktivitas masyarakat.

Karena itu, rekor 104,5 mm Nagoya akan menjadi salah satu data penting untuk memahami banjir September 2026 dan risiko hujan ekstrem di kawasan Tokai.

Daftar 47 Prefektur Jepang, Luas Wilayah, Kota dan Fakta Menarik

Mengenal Prefektur Jepang

Mengenal Kepulauan Jepang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama