Cara Mengajukan Visa HSP Jepang: Panduan Lengkap dari Indonesia

Highly Skilled Professional (HSP) Jepang merupakan salah satu status tinggal yang dirancang untuk menarik tenaga profesional dengan kemampuan tinggi ke Jepang. Jalur ini menggunakan sistem poin yang mempertimbangkan berbagai faktor seperti pendidikan, pengalaman kerja, penghasilan, kemampuan bahasa Jepang, dan pencapaian tertentu.

Bagi orang Indonesia yang ingin bekerja di Jepang melalui jalur HSP, prosesnya tidak cukup hanya dengan mengajukan visa di kedutaan. Pemohon perlu memenuhi persyaratan HSP terlebih dahulu, memperoleh pekerjaan atau aktivitas yang sesuai di Jepang, mengurus Certificate of Eligibility (COE), kemudian mengajukan visa untuk masuk ke Jepang.

Artikel ini membahas langkah demi langkah cara mengajukan HSP Jepang, dokumen yang perlu dipersiapkan, proses COE, pengajuan visa dari Indonesia, hingga hal-hal yang sering menyebabkan proses menjadi lebih rumit.

Baca juga: Syarat Visa HSP Jepang, Panduan Lengkap untuk Orang Indonesia

Apa Itu HSP Jepang?

HSP adalah singkatan dari Highly Skilled Professional. Dalam sistem imigrasi Jepang, istilah resminya berkaitan dengan status tinggal Highly Skilled Professional.

Jepang menggunakan sistem poin untuk menilai tenaga profesional asing yang memiliki kemampuan dan pengalaman tinggi. Penilaian dapat mencakup pendidikan, pengalaman profesional, penghasilan tahunan, pencapaian penelitian, kemampuan bahasa Jepang, dan faktor bonus lainnya.

Secara umum terdapat tiga kategori utama aktivitas HSP 1:

  • HSP 1(i) – kegiatan penelitian akademik tingkat lanjut.
  • HSP 1(ii) – kegiatan profesional atau teknis tingkat lanjut.
  • HSP 1(iii) – kegiatan manajemen atau pengelolaan bisnis tingkat lanjut.

Untuk kategori profesional dan teknis, jalur ini dapat relevan bagi sejumlah tenaga ahli seperti engineer, IT professional, researcher, dan profesional lain yang pekerjaannya memenuhi ketentuan imigrasi Jepang.

Pemerintah Jepang menetapkan sistem poin untuk ketiga kategori tersebut dan mensyaratkan pemohon memenuhi ketentuan status tinggal yang sesuai, bukan hanya memperoleh skor tinggi.

Apakah HSP Jepang Sama dengan Visa HSP?

Dalam percakapan sehari-hari orang sering menyebutnya sebagai Visa HSP Jepang. Namun, secara teknis terdapat perbedaan antara visa dan status tinggal.

Visa digunakan sebagai salah satu dokumen untuk memungkinkan seseorang melakukan perjalanan menuju Jepang dan meminta izin masuk.

Sementara itu, Highly Skilled Professional merupakan salah satu status tinggal yang menentukan aktivitas yang dapat dilakukan seseorang selama berada di Jepang.

Karena itu, prosesnya dapat dipahami secara sederhana seperti berikut:

Memenuhi syarat HSP → memperoleh pekerjaan/aktivitas yang memenuhi ketentuan → mengajukan COE/status tinggal → memperoleh visa → masuk Jepang.

Berapa Poin yang Dibutuhkan untuk HSP Jepang?

Salah satu bagian paling penting dalam proses HSP adalah sistem poin.

Secara umum, 70 poin merupakan ambang penting dalam sistem HSP. Namun, mencapai 70 poin saja tidak otomatis berarti seseorang pasti mendapatkan HSP.

Pemohon juga harus memenuhi persyaratan mengenai jenis aktivitas, kontrak atau hubungan dengan institusi di Jepang, serta persyaratan imigrasi lainnya.

Faktor Contoh yang Dinilai
Pendidikan Gelar dan latar belakang akademik
Pengalaman kerja Lama pengalaman profesional
Penghasilan Perkiraan atau penghasilan tahunan sesuai ketentuan
Pencapaian Prestasi penelitian atau pencapaian profesional tertentu
Kemampuan bahasa Kemampuan bahasa Jepang dalam kondisi yang memenuhi kriteria bonus
Bonus Faktor tambahan yang ditentukan dalam sistem poin

Karena sistem poin dapat berubah, pemohon sebaiknya menggunakan tabel poin resmi Imigrasi Jepang ketika melakukan perhitungan, bukan menggunakan tabel lama dari blog atau media sosial.

Langkah 1: Tentukan Kategori HSP yang Sesuai

Langkah pertama adalah menentukan jenis aktivitas yang akan dilakukan di Jepang.

Jangan langsung menghitung poin sebelum menentukan kategori aktivitas. Jenis pekerjaan dan aktivitas di Jepang harus sesuai dengan kategori HSP yang digunakan dalam pengajuan.

HSP 1(i): Academic Research

Kategori ini ditujukan untuk aktivitas penelitian, bimbingan penelitian, atau pendidikan berdasarkan kontrak dengan institusi publik atau swasta di Jepang.

HSP 1(ii): Highly Specialized and Technical Activities

Kategori ini berkaitan dengan pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan atau teknologi dalam bidang ilmu alam atau humaniora berdasarkan kontrak dengan institusi di Jepang.

Kategori ini merupakan salah satu kategori yang dapat relevan bagi profesional teknologi informasi, engineer, dan tenaga ahli lainnya, selama aktivitas dan persyaratannya sesuai dengan ketentuan imigrasi.

HSP 1(iii): Business Management

Kategori ini ditujukan untuk aktivitas menjalankan atau mengelola bisnis di Jepang sesuai persyaratan yang berlaku.

Ketiga kategori tersebut merupakan struktur utama dalam sistem HSP 1 Jepang.

Langkah 2: Mendapatkan Pekerjaan atau Aktivitas yang Sesuai di Jepang

Setelah mengetahui kategori HSP, langkah berikutnya adalah memastikan bahwa aktivitas yang akan dilakukan di Jepang memang memenuhi persyaratan.

Untuk calon pekerja profesional, biasanya hal ini berkaitan dengan adanya perusahaan atau institusi di Jepang yang akan menjadi tempat bekerja.

Contohnya:

  • perusahaan teknologi Jepang;
  • perusahaan manufaktur;
  • perusahaan engineering;
  • universitas;
  • lembaga penelitian;
  • perusahaan konsultan;
  • perusahaan multinasional yang memiliki operasi di Jepang.

Memiliki gelar tinggi dan pengalaman kerja saja belum cukup jika aktivitas yang akan dilakukan di Jepang tidak sesuai dengan kategori HSP.

Langkah 3: Hitung Poin HSP Jepang

Setelah pekerjaan atau aktivitas sudah jelas, lakukan perhitungan poin.

Dokumen yang digunakan untuk membuktikan poin harus sesuai dengan kondisi sebenarnya. Misalnya, apabila mendapatkan poin berdasarkan gelar pendidikan, pemohon harus dapat menunjukkan dokumen pendidikan yang relevan.

Begitu juga dengan pengalaman kerja, penghasilan, sertifikat bahasa, prestasi penelitian, maupun faktor bonus lainnya.

Kesalahan dalam menghitung poin dapat menyebabkan masalah ketika dokumen diperiksa oleh imigrasi.

Langkah 4: Kumpulkan Bukti untuk Setiap Poin

Jangan hanya membuat daftar bahwa Anda memiliki 70 atau 80 poin. Setiap poin yang digunakan dalam pengajuan harus dapat didukung dengan bukti yang relevan.

Contoh dokumen yang mungkin diperlukan antara lain:

  • ijazah;
  • transkrip akademik;
  • surat keterangan pengalaman kerja;
  • dokumen dari perusahaan;
  • kontrak kerja;
  • dokumen mengenai penghasilan;
  • sertifikat kemampuan bahasa apabila digunakan sebagai faktor penilaian;
  • bukti prestasi atau publikasi apabila relevan;
  • dokumen perusahaan atau institusi Jepang;
  • formulir perhitungan poin HSP;
  • dokumen identitas dan paspor.

Dokumen persis yang diperlukan dapat berbeda berdasarkan kategori HSP dan situasi pemohon.

Langkah 5: Mengajukan Certificate of Eligibility atau COE

Bagi orang yang masih berada di Indonesia dan akan datang ke Jepang untuk bekerja, salah satu tahapan penting adalah pengurusan Certificate of Eligibility (COE).

COE merupakan dokumen yang menunjukkan bahwa calon pemohon telah memenuhi persyaratan tertentu untuk masuk Jepang dengan status tinggal yang dimaksud.

Dalam proses HSP, pengajuan COE berkaitan dengan status Highly Skilled Professional 1(i), 1(ii), atau 1(iii).

Dokumen aplikasi HSP untuk COE juga memuat informasi seperti tempat kerja dan pendidikan terakhir pemohon.

Siapa yang Mengurus COE?

Dalam praktiknya, proses COE dapat melibatkan pihak di Jepang seperti perusahaan, institusi, kuasa hukum administratif, atau pihak lain yang berwenang sesuai mekanisme aplikasi.

Karena prosesnya membutuhkan informasi dari pihak Jepang, calon pekerja sebaiknya berkoordinasi dengan perusahaan atau institusi yang akan menerima mereka.

Langkah 6: Menunggu Pemeriksaan Imigrasi Jepang

Setelah aplikasi diajukan, Imigrasi Jepang akan memeriksa dokumen dan persyaratan yang berkaitan dengan status tinggal yang dimohonkan.

Pemeriksaan tidak hanya melihat jumlah poin. Imigrasi juga menilai apakah aktivitas yang direncanakan memang sesuai dengan kategori HSP dan apakah persyaratan lainnya terpenuhi.

Karena itu, 70 poin bukan jaminan otomatis mendapatkan HSP.

Langkah 7: Mendapatkan COE

Jika permohonan COE disetujui, pemohon memperoleh Certificate of Eligibility.

Pada tahap berikutnya, pemohon yang berada di Indonesia dapat menggunakan COE tersebut dalam proses pengajuan visa Jepang sesuai prosedur perwakilan Jepang yang berwenang.

Langkah 8: Mengajukan Visa Jepang dari Indonesia

Setelah COE tersedia, calon pekerja masih perlu menjalani proses visa untuk masuk ke Jepang.

Ini merupakan tahap yang berbeda dari pemeriksaan status tinggal HSP.

Untuk pemohon di Indonesia, informasi resmi Kedutaan Besar Jepang menyebutkan bahwa sejak 15 September 2017, penerimaan dan penyerahan aplikasi visa pada dasarnya dialihkan ke Japan Visa Application Centre (JVAC), dengan pengajuan berdasarkan wilayah yurisdiksi kantor perwakilan Jepang.

Karena lokasi pengajuan bergantung pada wilayah tempat tinggal, pemohon harus memeriksa kantor perwakilan Jepang yang memiliki yurisdiksi atas domisilinya.

Dokumen yang Perlu Disiapkan untuk Pengajuan HSP Jepang

Dokumen dapat berbeda berdasarkan kasus masing-masing pemohon. Namun, beberapa dokumen penting yang biasanya berkaitan dengan proses HSP antara lain:

  • paspor;
  • foto;
  • formulir aplikasi;
  • Certificate of Eligibility;
  • kontrak kerja atau dokumen aktivitas di Jepang;
  • surat dari perusahaan atau institusi Jepang;
  • ijazah;
  • transkrip nilai;
  • bukti pengalaman kerja;
  • bukti penghasilan atau informasi remunerasi;
  • sertifikat bahasa apabila digunakan dalam perhitungan poin;
  • bukti pencapaian profesional atau penelitian apabila relevan;
  • dokumen perhitungan poin HSP;
  • dokumen tambahan yang diminta oleh imigrasi atau kantor visa.

Formulir resmi HSP untuk COE sendiri meminta informasi mengenai tempat kerja dan pendidikan terakhir, sehingga data dalam seluruh dokumen harus konsisten.

Apakah Semua Dokumen Harus Diterjemahkan ke Bahasa Jepang?

Persyaratan bahasa dokumen dapat bergantung pada jenis dokumen dan prosedur yang digunakan.

Jangan menerjemahkan seluruh dokumen secara sembarangan sebelum memeriksa instruksi terbaru dari otoritas yang menerima aplikasi. Jika terjemahan diperlukan, gunakan format dan penerjemah yang sesuai dengan persyaratan pihak yang meminta.

Berapa Lama Proses Pengajuan HSP Jepang?

Waktu proses tidak sebaiknya dianggap sebagai angka pasti karena dapat berbeda berdasarkan jenis aplikasi, kelengkapan dokumen, kantor yang memproses, dan kondisi pemeriksaan.

Sistem HSP memang memberikan prioritas dalam prosedur masuk dan izin tinggal sebagai salah satu manfaatnya. Namun, prioritas tersebut bukan berarti semua aplikasi pasti selesai dalam jumlah hari tertentu.

Karena itu, calon pekerja sebaiknya tidak membeli tiket pesawat non-refundable hanya berdasarkan perkiraan waktu proses.

Apakah HSP Jepang Bisa Diajukan Tanpa Pekerjaan di Jepang?

Untuk jalur HSP berbasis pekerjaan atau aktivitas profesional, salah satu bagian penting dari pengajuan adalah aktivitas yang akan dilakukan di Jepang dan hubungan kontraktual dengan institusi atau perusahaan Jepang sesuai kategori yang dipilih.

Oleh karena itu, seseorang tidak cukup hanya mengatakan:

"Saya punya gelar S2, pengalaman 10 tahun, dan 80 poin."

Masih harus ada aktivitas yang sesuai dengan kategori HSP dan memenuhi persyaratan imigrasi Jepang.

Apakah HSP Jepang Bisa untuk Programmer?

Bisa saja, tetapi profesi "programmer" saja tidak otomatis membuat seseorang memenuhi HSP.

Yang perlu diperiksa adalah:

  • jenis pekerjaan;
  • kontrak dengan perusahaan Jepang;
  • kualifikasi akademik atau profesional;
  • pengalaman kerja;
  • penghasilan;
  • jumlah poin;
  • dan seluruh persyaratan kategori HSP yang digunakan.

Untuk profesional teknologi, kategori HSP 1(ii) sering menjadi bagian yang perlu diperiksa karena berkaitan dengan pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan atau teknologi dalam bidang ilmu alam atau humaniora. Namun, keputusan akhir tetap bergantung pada detail pekerjaan dan persyaratan resmi.

Apakah HSP Jepang Sama dengan Permanent Residence?

Tidak.

HSP adalah status tinggal, sedangkan permanent residence atau Permanent Resident (PR) merupakan status tinggal yang berbeda.

Salah satu keunggulan HSP adalah adanya pelonggaran persyaratan periode tinggal untuk mengajukan permanent residence dalam kondisi tertentu.

Misalnya, jalur berbasis 70 poin dapat memberikan jalur yang lebih cepat setelah memenuhi persyaratan tertentu, sedangkan pemilik 80 poin dapat memiliki jalur yang lebih cepat lagi berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Namun, memiliki 70 atau 80 poin tidak berarti otomatis mendapatkan permanent residence. Persyaratan PR lainnya tetap harus dipenuhi.

Bagaimana Jika Sudah Berada di Jepang?

Jika seseorang sudah berada di Jepang dengan status tinggal tertentu, situasinya berbeda dari orang yang masih berada di Indonesia.

Pemohon dapat mempertimbangkan prosedur perubahan status tinggal apabila memenuhi persyaratan HSP.

Dalam kondisi ini, prosesnya bukan sekadar mengajukan visa dari Indonesia, melainkan mengurus perubahan atau prosedur status tinggal melalui Imigrasi Jepang.

Jadi, secara sederhana terdapat dua situasi:

Kondisi Pemohon Gambaran Proses
Masih di Indonesia Memenuhi HSP → aktivitas/pekerjaan di Jepang → COE → visa → masuk Jepang
Sudah berada di Jepang Memenuhi HSP → mengajukan prosedur perubahan status tinggal jika memenuhi ketentuan

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Mengajukan HSP Jepang

1. Mengira 70 Poin Pasti Lolos

70 poin merupakan ambang penting, tetapi bukan satu-satunya persyaratan.

2. Menggunakan Tabel Poin Lama

Sistem imigrasi dapat mengalami perubahan. Gunakan informasi terbaru dari Immigration Services Agency Jepang.

3. Tidak Menyiapkan Bukti Poin

Perhitungan poin harus didukung dokumen yang relevan.

4. Mengabaikan Jenis Aktivitas

Pendidikan tinggi dan pengalaman kerja tidak otomatis menjadikan semua pekerjaan memenuhi kategori HSP.

5. Menganggap HSP Sama dengan Permanent Residence

HSP dan PR adalah dua status yang berbeda.

6. Mengajukan Visa Sebelum Menyiapkan Proses Status Tinggal

Untuk calon pekerja dari luar Jepang, proses COE dan status tinggal merupakan bagian penting sebelum pengajuan visa masuk Jepang.

Apakah HSP Jepang Sulit Didapat?

Tingkat kesulitannya sangat tergantung pada profil pemohon.

Orang dengan gelar tinggi, pengalaman profesional panjang, penghasilan tinggi, dan faktor bonus tertentu mungkin lebih mudah mencapai ambang poin.

Sebaliknya, seseorang dengan pengalaman kerja pendek atau kualifikasi terbatas mungkin kesulitan mencapai skor yang diperlukan.

Karena itu, cara terbaik bukan sekadar bertanya "Apakah saya bisa mendapatkan HSP?", tetapi menghitung profil secara objektif berdasarkan tabel resmi dan memeriksa apakah pekerjaan yang ditawarkan sesuai dengan kategori HSP.

Checklist Pengajuan HSP Jepang

Sebelum memulai proses, gunakan checklist berikut:

  • ☐ Menentukan kategori HSP.
  • ☐ Mendapatkan pekerjaan atau aktivitas yang sesuai di Jepang.
  • ☐ Menghitung poin HSP.
  • ☐ Memastikan poin mencapai ambang yang diperlukan.
  • ☐ Mengumpulkan bukti untuk setiap poin.
  • ☐ Menyiapkan dokumen pendidikan.
  • ☐ Menyiapkan bukti pengalaman kerja.
  • ☐ Menyiapkan kontrak atau dokumen pekerjaan.
  • ☐ Menyiapkan dokumen perusahaan/institusi Jepang.
  • ☐ Mengurus COE jika mengajukan dari luar Jepang.
  • ☐ Menerima COE.
  • ☐ Mengajukan visa melalui prosedur perwakilan Jepang yang berwenang.
  • ☐ Menunggu hasil visa.
  • ☐ Masuk Jepang sesuai status tinggal yang diberikan.

Alur Singkat Cara Mengajukan Visa HSP Jepang

Jika diringkas, alurnya adalah:

1. Tentukan kategori HSP

2. Dapatkan pekerjaan/aktivitas di Jepang

3. Hitung poin HSP

4. Kumpulkan bukti poin

5. Ajukan COE/status tinggal

6. COE diterbitkan

7. Ajukan visa Jepang di Indonesia

8. Visa diterbitkan

9. Masuk Jepang

10. Mulai aktivitas sesuai status HSP

FAQ Cara Mengajukan Visa HSP Jepang

Apakah orang Indonesia bisa mengajukan HSP Jepang?

Ya. Warga negara Indonesia dapat mengajukan HSP selama memenuhi persyaratan imigrasi Jepang dan memiliki aktivitas yang sesuai dengan kategori HSP.

Apakah harus punya pekerjaan di Jepang?

Untuk jalur HSP yang berbasis aktivitas profesional, pekerjaan atau aktivitas yang memenuhi ketentuan di Jepang merupakan bagian penting dari proses pengajuan.

Apakah 70 poin langsung mendapatkan HSP?

Tidak. 70 poin merupakan ambang penting, tetapi pemohon juga harus memenuhi persyaratan aktivitas, kontrak, dan persyaratan status tinggal lainnya.

Apakah HSP bisa digunakan untuk bekerja sebagai software engineer?

Bisa saja apabila pekerjaan, kontrak, kualifikasi, poin, dan persyaratan lainnya memenuhi ketentuan kategori HSP yang relevan.

Apakah HSP sama dengan visa kerja biasa?

Tidak. HSP merupakan status tinggal khusus berdasarkan sistem highly skilled professional. Visa adalah bagian dari proses untuk masuk ke Jepang.

Apakah HSP otomatis mendapatkan PR Jepang?

Tidak. HSP dapat memberikan keuntungan berupa pelonggaran periode tinggal untuk pengajuan PR dalam kondisi tertentu, tetapi persyaratan permanent residence lainnya tetap harus dipenuhi.

Apakah HSP bisa mendapatkan izin tinggal lima tahun?

HSP 1 memiliki periode tinggal lima tahun berdasarkan daftar status tinggal resmi Jepang. HSP 2 memiliki periode tinggal tidak terbatas sesuai ketentuan yang berlaku.

Artikel Terkait Kerja di Jepang:

Daftar Artikel Terkait Informasi Persyaratan Kerja di Jepang:

Cara mengajukan Visa HSP Jepang pada dasarnya bukan sekadar mengisi formulir visa. Prosesnya dimulai dari menentukan kategori HSP, memperoleh pekerjaan atau aktivitas yang sesuai di Jepang, menghitung poin, menyiapkan bukti, mengurus COE atau prosedur status tinggal, kemudian mengajukan visa untuk masuk Jepang.

Hal paling penting adalah memahami bahwa 70 poin bukan jaminan otomatis mendapatkan HSP. Aktivitas yang dilakukan di Jepang, kontrak, kualifikasi, dokumen pembuktian, dan persyaratan imigrasi lainnya juga harus sesuai.

Bagi calon pekerja dari Indonesia, strategi terbaik adalah mempersiapkan dokumen sejak awal dan menggunakan informasi resmi Immigration Services Agency of Japan serta perwakilan Jepang di Indonesia sebagai acuan utama.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama