Banyak orang mengira Jepang tidak pernah memiliki kaisar perempuan karena aturan suksesi saat ini hanya mengizinkan laki-laki mewarisi Takhta Krisan. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dalam sejarahnya, Jepang telah memiliki delapan perempuan yang pernah naik takhta sebagai kaisar.
Sebagian besar dari mereka memerintah sebagai penguasa sementara ketika belum ada pewaris laki-laki yang siap memimpin. Meski demikian, keberadaan mereka menjadi bagian penting dalam sejarah panjang Kekaisaran Jepang.
Baca juga: Pembentukan Kekaisaran Jepang: Awal Mula Sistem Kekuasaan
Benarkah Jepang Pernah Dipimpin Perempuan?
Ya. Sejak abad ke-6 hingga abad ke-18, Jepang tercatat memiliki delapan kaisar perempuan (Empress Regnant). Mereka memegang kekuasaan sebagai kepala negara dan menjalankan berbagai tugas pemerintahan sebagaimana kaisar laki-laki.
Namun, setelah masa pemerintahan mereka berakhir, takhta kembali diwariskan kepada keturunan laki-laki sesuai tradisi kekaisaran.
Daftar 8 Kaisar Perempuan Jepang
1. Kaisar Suiko (593–628)
Suiko merupakan perempuan pertama yang naik takhta sebagai Kaisar Jepang. Masa pemerintahannya dikenal sebagai awal berkembangnya agama Buddha dan reformasi pemerintahan bersama Pangeran Shotoku.
2. Kaisar Kogyoku (642–645)
Kogyoku memerintah pada masa penuh gejolak politik. Setelah turun takhta, ia kembali memerintah dengan nama Kaisar Saimei.
3. Kaisar Saimei (655–661)
Saimei adalah orang yang sama dengan Kogyoku, tetapi dihitung sebagai pemerintahan yang berbeda karena kembali naik takhta setelah beberapa tahun.
4. Kaisar Jito (690–697)
Jito berperan penting dalam memperkuat sistem pemerintahan setelah Reformasi Taika dan mendukung pembangunan ibu kota baru Jepang.
5. Kaisar Genmei (707–715)
Pada masa Genmei, ibu kota dipindahkan ke Heijo-kyo (sekarang Nara). Ia juga mendukung penyusunan berbagai catatan sejarah Jepang.
6. Kaisar Gensho (715–724)
Gensho melanjutkan berbagai kebijakan pendahulunya dan menjaga stabilitas pemerintahan pada awal periode Nara.
7. Kaisar Koken / Shotoku (749–758 dan 764–770)
Koken merupakan salah satu tokoh paling terkenal dalam sejarah kekaisaran Jepang. Setelah sempat turun takhta, ia kembali memerintah dengan nama Kaisar Shotoku.
8. Kaisar Go-Sakuramachi (1762–1771)
Go-Sakuramachi menjadi perempuan terakhir yang naik takhta di Jepang. Setelah pemerintahannya berakhir, Jepang tidak lagi memiliki kaisar perempuan hingga saat ini.
Baca juga: Apa Tugas Kaisar Jepang? Simbol Negara yang Tidak Memimpin Pemerintahan
Mengapa Kaisar Perempuan Tidak Berlanjut?
Meskipun pernah memiliki delapan kaisar perempuan, tradisi pewarisan takhta di Jepang tetap mengutamakan garis keturunan laki-laki. Para kaisar perempuan umumnya dianggap sebagai penguasa sementara hingga tersedia pewaris laki-laki yang memenuhi syarat.
Prinsip tersebut kemudian ditegaskan dalam Imperial House Law pada Era Meiji dan masih berlaku hingga sekarang.
Baca juga: Mengapa Putri Aiko Tetap Tidak Bisa Menjadi Kaisar Jepang
Apakah Putri Aiko Bisa Menjadi Kaisar?
Saat ini, jawabannya adalah belum. Berdasarkan Imperial House Law yang berlaku, hanya laki-laki dari garis keturunan ayah keluarga kekaisaran yang dapat mewarisi Takhta Krisan.
Meskipun banyak masyarakat Jepang mendukung perubahan aturan agar perempuan juga dapat menjadi kaisar, hingga kini belum ada revisi yang mengubah sistem suksesi tersebut.
Baca juga: Mengenal Era Jepang, Edo, Meiji, Taisho, Showa, Heisei, hingga Reiwa
Daftar Singkat Kaisar Perempuan Jepang
| Nama | Masa Pemerintahan |
|---|---|
| Suiko | 593–628 |
| Kogyoku | 642–645 |
| Saimei | 655–661 |
| Jito | 690–697 |
| Genmei | 707–715 |
| Gensho | 715–724 |
| Koken / Shotoku | 749–758 & 764–770 |
| Go-Sakuramachi | 1762–1771 |
Jepang memang pernah dipimpin oleh perempuan. Sepanjang sejarahnya terdapat delapan kaisar perempuan yang memegang Takhta Krisan pada berbagai periode. Namun, mereka umumnya memerintah sebagai penguasa sementara sebelum takhta kembali diwariskan kepada laki-laki. Hingga Era Reiwa, aturan suksesi Jepang masih mempertahankan sistem pewarisan melalui garis keturunan laki-laki.